Langsung ke konten utama

Sering Tidur Mendengkur? Hati-hati Tanda Penyakit ini

Sering  Tidur Mendengkur? Hati-hati Tanda Penyakit ini

Mendengkur biasanya dianggap sebagai kebiasaan buruk saat tidur karena mengganggu orang di sekitar. Meski cukup umum terjadi, ternyata mendengkur tak boleh dianggap sepele karena terkadang bisa menjadi tanda adanya penyakit yang berbahaya.

Kebiasaan tidur mendengkur ini bisa dialami oleh siapa saja, tapi hal ini biasanya terjadi pada pria dan orang yang mengalami obesitas. Kondisi ini kemungkinan diakibatkan oleh kelebihan lemak yang menumpuk di sekitar leher sehingga menyebabkan aliran napas terganggu saat tidur.

Selain karena obesitas, kebiasaan mendengkur juga bisa disebabkan oleh kelelahan atau kondisi medis lain, seperti deviasi septum, kelainan bentuk hidung, tenggorokan, atau mulut, dan sinusitis.

Beberapa orang mungkin memiliki amandel maupun lidah besar yang dapat mempersempit atau menghalangi napas sehingga menyebabkan dengkuran saat tertidur. Selain itu, Anda juga berisiko tidur mendengkur jika sering meminum minuman keras atau memiliki riwayat mendengkur di dalam keluarga.

Pada beberapa kasus tertentu, mendengkur bisa berhubungan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit berbahaya, seperti:

1. Gangguan pernapasan

Orang yang sering sering mengorok saat tidur berisiko tinggi untuk mengalami obstructive sleep apnea (OSA) atau apnea tidur obstruktif.

Penderita OSA bisa berhenti bernapas selama 10–20 detik saat mereka tidur. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan akibat jalan napas tertutup dan mengurangi kadar oksigen dalam tubuh.

Obstructive sleep apnea merupakan masalah kesehatan serius yang perlu diwaspadai. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi berbahaya berupa henti jantung mendadak yang dapat menyebabkan kematian.

2. GERD

Orang yang sering tidur mendengkur dan mengalami sleep apnea juga bisa lebih berisiko mengalami penyakit asam lambung (GERD). Kondisi ini terjadi ketika dinding otot lambung dan kerongkongan menjadi lemah, sehingga makanan dan yang dicerna lambung beserta asam lambung naik kembali ke kerongongan.

3. Sakit kepala dan insomnia

Riset menyebutkan bahwa orang yang tidur mendengkur karena sleep apnea lebih sering mengalami gangguan tidur atau insomnia dan keluhan sakit kepala. Hal ini karena kualitas tidur yang buruk akibat mendengkur serta jumlah oksigen yang berkurang di dalam tubuh.

4. Stroke

Orang yang sering mendengkur juga bisa lebih berisiko mengalami sumbatan atau penyempitan pembuluh darah di leher dan otak. Hal ini lama kelamaan bisa memicu terjadinya stroke. Risiko terjadinya stroke akan lebih tinggi, apabila orang yang mendengkur juga memiliki riwayat hipertensi dan kolesterol tinggi.

5. Gangguan irama jantung

Riset menyebutkan bahwa orang yang mengalami apnea tidur obstruktif dalam jangka panjang bisa mengalami pembesaran jantung. Hal ini kemudian bisa meningkatkan risiko terjadinya aritmia atau gangguan irama jantung.

6. Komplikasi kehamilan

Masalah tidur mendengkur akibat sleep apnea juga bisa berdampak pada ibu hamil. Beberapa riset menyebutkan bahwa ibu hamil yang mengalami gangguan tidur sleep apnea lebih berisiko mengalami komplikasi kehamilan, seperti preeklamsia.

Tak hanya itu, masalah tidur ini juga bisa berdampak pada kesehatan dan tumbuh kembang janin.

Selain berisiko menyebabkan penyakit di atas, kebiasaan mendengkur juga dapat menimbulkan berbagai keluhan lainnnya, seperti sulit konsentrasi, mudah lupa, sering mengantuk, dan sering lalai saat bekerja dan beraktivitas.

Mendengkur memang sering dianggap hal yang biasa. Namun, jika kebiasaan ini sudah terjadi terlalu lama dan mengganggu orang di sekitar atau membuat Anda mengalami keluhan tertentu, sebaiknya periksakan diri ke dokter dokter untuk mendapat pemeriksaan serta pengobatan yang tepat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Tablet yang Cocok untuk Mahasiswa Desain Grafis

Rekomendasi tablet yang cocok untuk desain Mahasiswa jurusan desain pastinya membutuhkan perangkat yang dapat meningkatkan kreativitas dan produktivitas mereka. Salah satu perangkat penting dalam dunia desain adalah tablet. Tablet memungkinkan mahasiswa desain untuk menggambar, merancang, dan menyelesaikan proyek-proyek mereka secara efisien di mana pun mereka berada tanpa perlu membawa PC kemana saja. Dengan tablet seorang mahasiswa bisa mengerjakan tugasnya di Cafe atau tempat nyaman lainya. Dalam artikel ini, fend.my.id akan memberikan rekomendasi tablet yang cocok untuk mahasiswa desain, dengan mempertimbangkan kinerja, presidi, kemampuan stylus, dan kebutuhan desain lainnya 1. Apple iPad Pro (2021) Apple iPad pro (2021) Di urutan pertama tentunya ada dari produk Apple. Apple iPad Pro adalah salah satu tablet terbaik yang dapat membantu mahasiswa desain dalam menjalankan aplikasi desain seperti Adobe Creative Cloud, Procreate, atau Affinity Designer. iPad Pro hadir dengan layar Li

Sejarah yang Menginspirasi di Balik Logo Nike "Swoosh"

Logo Nike "Swoosh" adalah salah satu ikon desain grafis yang paling dikenal di seluruh dunia. Tapi tahukah Anda bagaimana sejarah logo ini dimulai dan apa maknanya? Dalam artikel ini, kita akan mengungkap kisah menarik di balik logo Nike "Swoosh" yang menjadi simbol keberhasilan dan inspirasi. Carolyn Davidson Pada tahun 1971, seorang mahasiswa desain grafis bernama Carolyn Davidson dipekerjakan oleh pendiri Nike, Phil Knight. Pada saat itu, Nike masih merupakan perusahaan baru yang bergerak di bidang sepatu olahraga. Phil Knight ingin menciptakan logo yang sederhana dan mudah diingat untuk mereknya yang baru. "Swoosh" Desain 1971 Carolyn Davidson menghabiskan waktu sekitar 17,5 jam untuk menciptakan desain yang akhirnya dikenal sebagai "Swoosh". Desain tersebut terinspirasi oleh gerakan dinamis, kecepatan, dan kebebasan. "Swoosh" yang melengkung dan tegas ini menggambarkan pergerakan yang kuat, seolah-olah merepresentasikan atlet yang

Mengetahui Asal-usul Meme di Internet

Troll face meme Meme di internet punya sejarah tersendiri di dunia, mulai dari gambar hamster berjoget hingga meme-meme berbau politik era kini. Bahkan ada meme tertentu yang dilarang di beberapa negara. Limor Shifman dalam bukunya, ‘Memes in Digital Culture’, menjelaskan ‘meme internet’ sebagai item digital. Namun tidak semua bentuk item digital disebut meme. “Meme internet adalah item-item digital dengan kesamaan karakteristik konten, bentuk, dan/atau pendirian, yang dibuat dengan kesadaran satu sama lain, serta diedarkan, ditiru, dan/atau diubah via internet oleh banyak penggunanya,” tulis Shifman. Meme lekat dengan sifat viral di internet, bisa gambar atau video. Namun, tak semua konten viral adalah meme. Konten viral hanya terdiri dari satu unit item dan diperbanyak, sedangkan meme internet bukan hanya bergantung pada satu unit item, melainkan ada jalinan satu sama lain. Ciri-ciri video meme yang bukan sekadar video viral adalah mengandung humor, simpel, repetitif, dan konyol. Unt