Langsung ke konten utama

Font Serif Hadirkan Kesan Formal dan Profesional

Kamu ingin hasil desain terlihat profesional dan klasik? Kalau begitu, Serif adalah huruf yang wajib kamu coba.

Memangnya, apa itu font Serif? Kapan font ini muncul, dan seperti apa contoh dalam penggunaannya?

Simak informasi yang Fend.my.id bagikan berikut ini, ya!

Apa Itu Font Serif?

Seperti yang sudah admin jelaskan, Serif merupakan salah satu jenis font. Salah satu ciri khasnya adalah adanya garis kecil di sudut akhir tiap hurufnya.

Apa Itu Font Serif?


Nama “Serif” sendiri diambil dari bahasa Belanda, schreef. Yang berarti garis atau goresan pena.

Dalam artikel ini, garis kecil tersebut akan kita sebut sebagai “ekor”.

Mengutip Adobe, asal-usul garis tambahan ini kurang jelas. Meski begitu, ada yang berpendapat bahwa ini merupakan pengaruh dari penulisan dengan kuas.

Pada zaman dulu, pulpen tak langsung bisa dipakai untuk menulis. Orang-orang harus mencelupkan ujungnya dulu ke tinta. Setelah itu, baru pulpen bisa digoreskan ke kertas.

Oleh karena itu, tiap kali menulis, muncul garis kecil di bagian ujung huruf. Tentu ini bukanlah sebuah kesengajaan.

Nah, di saat ini, pulpen sudah lebih modern dan tidak punya jejak tinta. Namun, huruf-huruf Serif tetap punya “ekor” untuk tujuan dekorasi.

Seperti yang sudah admin sebutkan, font serif memberikan kesan profesional dan formal. Ia membuat penggunanya punya kesan historis dan klasik.

Jenis-Jenis Huruf Serif

Dari masa ke masa, font Serif terus mengalami perubahan. Hingga kini, ada setidaknya 6 turunan dari huruf klasik ini.

Dirangkum dari Figma dan CreativePro Network, berikut turunan-turunan itu:

1. Old Style




Old Style merupakan jenis Serif yang paling tua. Sudah ada sejak abad ke-14. Font yang satu ini terus berkembang dan dikreasikan hingga pertengahan abad ke-18.

Ciri khasnya adalah “ekor” yang menghadap ke kiri. Selain itu, sudut di antara huruf dan “ekor”-nya kurang dari 90 derajat.

Garis-garisnya juga cenderung membulat, bukannya membentuk sudut. Selain itu, perbedaan di antara sisi tebal dan tipisnya tak terlalu jauh.

2. Transitional atau Baroque




Gaya huruf Serif yang juga disebut Baroque ini muncul pada abad ke-18. Jika Old Style tebal-tipisnya tak jauh beda, lain halnya dengan Transitional. Ia punya kontras ketebalan yang lebih jelas.

Selain itu, sudut “ekor” dan hurufnya lebih mendekati 90 derajat. Secara umum, mereka juga terlihat lebih tipis daripada Old Style.

3. Slab Serif

Pada abad yang sama, Slab Serif lahir. Font yang satu ini tak punya beda tebal-tipis sama sekali.




Semuanya terlihat seragam , mulai dari “ekor” hingga huruf utamanya. Keduanya punya sudut temu sebesar 90 derajat.

4. Modern, Didone, atau Neoclassical




Di akhir abad ke-18, muncullah Serif Modern.Ciri khas Serif Modern adalah “ekor”-nya yang sangat tipis. Apalagi, jika “ekor” itu dibandingkan dengan hurufnya.

Sudut temu keduanya juga mencapai 90 derajat. Sisi tebal-tipisnya jauh lebih kontras daripada Transitional.

Pada awal abad ke-19, font ini banyak dipakai oleh majalah. Sayangnya, trennya menurun seiring perkembangan waktu.

Meski begitu, hingga kini, masih banyak nama-nama brand besar yang menggunakan Serif Modern, lho. Dua di antaranya adalah logo majalah VOGUE dan merek fashion ternama Dior.

5. Square Serif

Sebagai tandingan huruf Serif Modern, ada Square Serif. Font ini muncul di waktu yang sama, yakni pada awal abad ke-19.



Ia mirip dengan Old Style yang tak punya banyak kontras di antara “ekor” dan hurufnya.

Sudut-sudutnya juga membentuk persegi, bukannya bulat atau segitiga.

6. Glyphic

Ingin pakai font Serif yang “ekor”-nya unik? Glyphic adalah jawabannya.

“Ekor”-nya berbentuk segitiga, bukannya sekadar garis atau persegi. Ini membuatnya punya kesan huruf yang diukir, bukannya ditulis atau diketik.




Demikian artikel mengenai huruf Serif. Kamu bisa pertimbangkan font ini untuk karya-karya grafismu selanjutnya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Tablet yang Cocok untuk Mahasiswa Desain Grafis

Rekomendasi tablet yang cocok untuk desain Mahasiswa jurusan desain pastinya membutuhkan perangkat yang dapat meningkatkan kreativitas dan produktivitas mereka. Salah satu perangkat penting dalam dunia desain adalah tablet. Tablet memungkinkan mahasiswa desain untuk menggambar, merancang, dan menyelesaikan proyek-proyek mereka secara efisien di mana pun mereka berada tanpa perlu membawa PC kemana saja. Dengan tablet seorang mahasiswa bisa mengerjakan tugasnya di Cafe atau tempat nyaman lainya. Dalam artikel ini, fend.my.id akan memberikan rekomendasi tablet yang cocok untuk mahasiswa desain, dengan mempertimbangkan kinerja, presidi, kemampuan stylus, dan kebutuhan desain lainnya 1. Apple iPad Pro (2021) Apple iPad pro (2021) Di urutan pertama tentunya ada dari produk Apple. Apple iPad Pro adalah salah satu tablet terbaik yang dapat membantu mahasiswa desain dalam menjalankan aplikasi desain seperti Adobe Creative Cloud, Procreate, atau Affinity Designer. iPad Pro hadir dengan layar Li

Sejarah yang Menginspirasi di Balik Logo Nike "Swoosh"

Logo Nike "Swoosh" adalah salah satu ikon desain grafis yang paling dikenal di seluruh dunia. Tapi tahukah Anda bagaimana sejarah logo ini dimulai dan apa maknanya? Dalam artikel ini, kita akan mengungkap kisah menarik di balik logo Nike "Swoosh" yang menjadi simbol keberhasilan dan inspirasi. Carolyn Davidson Pada tahun 1971, seorang mahasiswa desain grafis bernama Carolyn Davidson dipekerjakan oleh pendiri Nike, Phil Knight. Pada saat itu, Nike masih merupakan perusahaan baru yang bergerak di bidang sepatu olahraga. Phil Knight ingin menciptakan logo yang sederhana dan mudah diingat untuk mereknya yang baru. "Swoosh" Desain 1971 Carolyn Davidson menghabiskan waktu sekitar 17,5 jam untuk menciptakan desain yang akhirnya dikenal sebagai "Swoosh". Desain tersebut terinspirasi oleh gerakan dinamis, kecepatan, dan kebebasan. "Swoosh" yang melengkung dan tegas ini menggambarkan pergerakan yang kuat, seolah-olah merepresentasikan atlet yang

Mengetahui Asal-usul Meme di Internet

Troll face meme Meme di internet punya sejarah tersendiri di dunia, mulai dari gambar hamster berjoget hingga meme-meme berbau politik era kini. Bahkan ada meme tertentu yang dilarang di beberapa negara. Limor Shifman dalam bukunya, ‘Memes in Digital Culture’, menjelaskan ‘meme internet’ sebagai item digital. Namun tidak semua bentuk item digital disebut meme. “Meme internet adalah item-item digital dengan kesamaan karakteristik konten, bentuk, dan/atau pendirian, yang dibuat dengan kesadaran satu sama lain, serta diedarkan, ditiru, dan/atau diubah via internet oleh banyak penggunanya,” tulis Shifman. Meme lekat dengan sifat viral di internet, bisa gambar atau video. Namun, tak semua konten viral adalah meme. Konten viral hanya terdiri dari satu unit item dan diperbanyak, sedangkan meme internet bukan hanya bergantung pada satu unit item, melainkan ada jalinan satu sama lain. Ciri-ciri video meme yang bukan sekadar video viral adalah mengandung humor, simpel, repetitif, dan konyol. Unt