Langsung ke konten utama

8 Alasan Mengapa Freelance diminati Generasi Milenial

Fend.my.id - Pekerjaan sebagai freelancer banyak diminati oleh para milenial. Walaupun sering dipandang sebelah mata, tapi pekerjaan freelance pun bisa mendatangkan berbagai macam keuntungan bagi para pelakunya. 

Gb. Ilustrasi Freelancer (sumber pexels.com)

Ada berbagai alasan milenial lebih suka menjadi freelancer. Walaupun pekerjaan ini dikatakan untuk orang malas, tapi sebenarnya hal itu jauh dari yang dibayangkan.

Freelancer bisa jadi sosok yang rajin bekerja. Yang malas justru adalah orang yang tidak bekerja sama sekali dan hanya bergantung pada orang lain.

Di bawah ini adalah alasan yang menyebabkan terjadinya perubahan kebiasaan pemilihan kerja ini yang dilakukan oleh milenial. 

1. Waktu Lebih Fleksibel

Alasan milenial lebih suka menjadi freelancer yang pertama adalah karena waktunya yang fleksibel. Pekerjaan freelance memiliki tenggat waktu dari klien juga, tapi tetap tidak terikat waktu seperti pekerja kantoran yang biasanya masuk kantor pukul 8 pagi, keluar pukul 5 sore.

Lalu, liburannya pun tidak harus menunggu waktu weekend. Di hari biasa pun pekerja freelance bisa liburan apabila tidak memiliki pekerjaan. Dengan waktu yang fleksibel ini, freelancer jadi lebih mudah mengatur waktunya untuk hal-hal lain.

2. Bisa Dikerjakan dari Mana Saja

Alasan milenial lebih suka menjadi freelancer yang kedua adalah pekerjaannya bisa dilakukan di mana saja. Biasanya pekerja freelancer bekerja dari rumah. Atau jika sedang bosan berada di rumah, mereka bisa mendatangi coworking space, kafe, dan tempat lain yang juga nyaman untuk menjadi tempat kerja.

Mereka ini adalah sosok milenial yang rajin bekerja karena mampu mengerjakan beberapa proyek sekaligus. Mereka juga berani menerima tantangan yang ada. Mengerjakan beberapa proyek sekaligus juga membutuhkan konsentrasi yang penuh. 

Dibandingkan harus bekerja di satu tempat terus-menerus dan memiliki jam yang harus diikuti juga, milenial yang mengharapkan hidup yang dinamis biasanya tidak ingin bergantung hanya pada satu tempat. 

3. Tidak Selalu Harus Hadir di Kantor

Beberapa perusahaan mengharuskan freelance ke kantor, tapi itu pun tidak selalu. Hal itu pun bisa membuat mereka terhindar dari jalan yang macet, penuh asap, dan penuh bau keringat. Banyak orang beranggapan bahwa bekerja di pusat kota, baru di jalan pun sudah melelahkan. Belum lagi harus bekerja selama 8 jam. Belum lagi lemburnya.

Lain halnya dengan freelancer yang ke kantor hanya untuk hari-hari tertentu, tergantung perintah dari klien. Kalaupun harus ke kantornya, waktunya pun lebih fleksibel, tidak harus datang pukul 8 pagi. Itu yang membuat freelancer terhindar dari kemacetan jalan.

4. Bisa Mengerjakan Beberapa Proyek Sekaligus

Alasan milenial lebih suka menjadi freelancer berikutnya adalah karena mereka bisa memilih mengerjakan beberapa proyek sekaligus. Proyek tersebut berasal dari perusahaan yang berbeda. Hal itu karena mereka tidak punya kontrak dan tidak diharuskan setia pada satu perusahaan saja.

Freelancer bisa mengambil proyek dari mana saja yang sesuai dengan kemampuannya. Inilah yang membuat mereka bisa mendapatkan bayaran yang cukup banyak. Padahal mereka tidak mendapatkan gaji tetap. 

Namun, hal ini dilakukan dengan penuh perhitungan. Mengerjakan dua proyek sekaligus dalam satu waktu itu tidaklah mudah. Freelancer harus bisa membagi waktu. Bisa saja freelancer lupa bahwa mereka juga punya waktu yang terbatas, sehingga mengalami burnout.

5. Bisa Memiliki Waktu untuk Keluarga

Alasan milenial lebih suka menjadi freelancer yang lain adalah karena mereka jadi punya waktu banyak untuk keluarga. Sering ditemukan kejadian orang-orang yang tidak sempat berkumpul bersama keluarganya karena terlalu sibuk bekerja. Padahal membina hubungan yang baik bersama keluarga itu penting.

Keluarga akan selalu ada untuk kita, sementara itu kantor belum tentu punya kepekaan yang sama. Para milenial ingin punya hubungan yang berkualitas dengan keluarganya.

6. Bisa Memiliki Waktu Lebih untuk Me Time

Waktu me time adalah waktu yang sangat kita butuhkan sebagai pekerja. Kita tidak akan bisa bekerja terus, berkumpul dengan orang lain terus. Kita juga membutuhkan waktu sendiri untuk melakukan hal-hal yang kita senangi.

Para freelancer biasanya memiliki waktu me time lebih banyak karena waktu kerjanya yang lebih fleksibel. 

7. Bisa Memiliki Banyak Kenalan

Jangan pikir freelancer adalah sosok yang tidak ingin berteman karena lebih memilih berada di rumah. Mereka justru punya banyak kenalan dan koneksi karena bekerja berpindah-pindah tempat. Untuk itu kesempatan mendapatkan proyek kerja pun akan selalu ada.

Inilah yang membuat freelancer memiliki banyak pengalaman karena punya klien yang berbeda-beda. 

8. Beberapa Jenis Pekerjaan Kebanyakan Ada dalam Bentuk Freelance

Alasan milenial lebih suka menjadi freelancer yang mesti dipahami adalah karena profesi yang mereka pilih biasanya ada dalam bentuk freelance. Contohnya adalah penulis novel, penulis skenario tv, sutradara film, penyanyi, dan pekerjaan lainnya.

Beberapa posisi itu tidak terikat dengan suatu kantor karena sejak awal budaya kerjanya seperti itu. Dan itu tidaklah masalah. Mereka biasanya ingin saja menjadi pekerja kantoran, tapi jarang sekali kantor yang membuka pekerjaan tetap untuk posisi yang mereka inginkan.

Walaupun pekerja freelance memiliki kebebasan yang diharapkan banyak orang, tapi tantangannya juga ada. Tidak jarang freelancer mengalami kesulitan keuangan karena belum mendapatkan proyek. Pasalnya persaingan menjadi freelancer juga cukup ketat. 

Di sinilah freelancer harus bisa mengatur keuangannya dengan baik ketika memiliki proyek yang mendatangkan banyak uang. Freelancer tidak bisa menghabiskan uangnya dalam waktu yang singkat. Kamu bisa saja memilih sebagai freelancer, tapi harus siap dengan tantangan dan harus rajin-rajin juga melamar sebagai freelance agar tidak mengalami sepi job.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Tablet yang Cocok untuk Mahasiswa Desain Grafis

Rekomendasi tablet yang cocok untuk desain Mahasiswa jurusan desain pastinya membutuhkan perangkat yang dapat meningkatkan kreativitas dan produktivitas mereka. Salah satu perangkat penting dalam dunia desain adalah tablet. Tablet memungkinkan mahasiswa desain untuk menggambar, merancang, dan menyelesaikan proyek-proyek mereka secara efisien di mana pun mereka berada tanpa perlu membawa PC kemana saja. Dengan tablet seorang mahasiswa bisa mengerjakan tugasnya di Cafe atau tempat nyaman lainya. Dalam artikel ini, fend.my.id akan memberikan rekomendasi tablet yang cocok untuk mahasiswa desain, dengan mempertimbangkan kinerja, presidi, kemampuan stylus, dan kebutuhan desain lainnya 1. Apple iPad Pro (2021) Apple iPad pro (2021) Di urutan pertama tentunya ada dari produk Apple. Apple iPad Pro adalah salah satu tablet terbaik yang dapat membantu mahasiswa desain dalam menjalankan aplikasi desain seperti Adobe Creative Cloud, Procreate, atau Affinity Designer. iPad Pro hadir dengan layar Li

Sejarah yang Menginspirasi di Balik Logo Nike "Swoosh"

Logo Nike "Swoosh" adalah salah satu ikon desain grafis yang paling dikenal di seluruh dunia. Tapi tahukah Anda bagaimana sejarah logo ini dimulai dan apa maknanya? Dalam artikel ini, kita akan mengungkap kisah menarik di balik logo Nike "Swoosh" yang menjadi simbol keberhasilan dan inspirasi. Carolyn Davidson Pada tahun 1971, seorang mahasiswa desain grafis bernama Carolyn Davidson dipekerjakan oleh pendiri Nike, Phil Knight. Pada saat itu, Nike masih merupakan perusahaan baru yang bergerak di bidang sepatu olahraga. Phil Knight ingin menciptakan logo yang sederhana dan mudah diingat untuk mereknya yang baru. "Swoosh" Desain 1971 Carolyn Davidson menghabiskan waktu sekitar 17,5 jam untuk menciptakan desain yang akhirnya dikenal sebagai "Swoosh". Desain tersebut terinspirasi oleh gerakan dinamis, kecepatan, dan kebebasan. "Swoosh" yang melengkung dan tegas ini menggambarkan pergerakan yang kuat, seolah-olah merepresentasikan atlet yang

Mengetahui Asal-usul Meme di Internet

Troll face meme Meme di internet punya sejarah tersendiri di dunia, mulai dari gambar hamster berjoget hingga meme-meme berbau politik era kini. Bahkan ada meme tertentu yang dilarang di beberapa negara. Limor Shifman dalam bukunya, ‘Memes in Digital Culture’, menjelaskan ‘meme internet’ sebagai item digital. Namun tidak semua bentuk item digital disebut meme. “Meme internet adalah item-item digital dengan kesamaan karakteristik konten, bentuk, dan/atau pendirian, yang dibuat dengan kesadaran satu sama lain, serta diedarkan, ditiru, dan/atau diubah via internet oleh banyak penggunanya,” tulis Shifman. Meme lekat dengan sifat viral di internet, bisa gambar atau video. Namun, tak semua konten viral adalah meme. Konten viral hanya terdiri dari satu unit item dan diperbanyak, sedangkan meme internet bukan hanya bergantung pada satu unit item, melainkan ada jalinan satu sama lain. Ciri-ciri video meme yang bukan sekadar video viral adalah mengandung humor, simpel, repetitif, dan konyol. Unt